SAMPANG, Kabar-harian.com – Di jantung Pulau Madura, tepatnya di Kabupaten Sampang, terhampar sebuah kawasan unik bernama Kampung Belanda.
Bukan sekadar kumpulan rumah tua, Kampung Belanda menyimpan kisah pertemuan dan percampuran budaya yang menarik.
Bayangkan, rumah-rumah bergaya arsitektur Eropa berdiri kokoh di tengah kehidupan masyarakat Madura yang kental dengan tradisi dan budayanya.
Dinding-dinding putih, jendela-jendela tinggi, dan atap-atap yang khas, seakan berbisik tentang masa lalu yang penuh warna.
Rumah-rumah ini dulunya menjadi tempat tinggal para pejabat pemerintahan Hindia Belanda, para tentara, dan mungkin juga para pedagang Eropa yang berjaya di masa kolonial. Kehidupan mereka, dengan segala kemewahan dan kekuasaannya,
Berdampingan—bahkan bercampur aduk—dengan kehidupan masyarakat lokal. Bayangkanlah interaksi sehari-hari: para pembantu rumah tangga Madura melayani tuan-tuan Belanda, para pedagang lokal bertransaksi dengan pedagang Eropa, dan anak-anak dari kedua budaya bermain bersama di jalanan berdebu.
Namun, Kampung Belanda bukan hanya tentang keindahan arsitektur dan interaksi budaya yang harmonis. Ia juga menyimpan kisah tentang ketidakadilan, eksploitasi, dan perlawanan.
Di balik keindahan bangunan-bangunan itu, tersimpan cerita tentang masa sulit yang dialami masyarakat Madura di bawah kekuasaan kolonial. Kampung Belanda menjadi saksi bisu sejarah yang kompleks, sebuah perpaduan antara keindahan dan kesedihan.
Hari ini, Kampung Belanda menjadi destinasi wisata yang menarik. Bangunan-bangunan tua itu, meski banyak yang telah mengalami kerusakan, tetap menyimpan pesona tersendiri.
Mereka bercerita tentang masa lalu, mengajak kita untuk merenungkan sejarah dan bagaimana warisan masa lalu membentuk identitas Sampang hingga kini.
Dengan mengunjungi Kampung Belanda, kita bukan hanya melihat bangunan-bangunan tua, tetapi juga menyelami lapisan-lapisan sejarah yang kaya dan kompleks.
Kita diajak untuk menghargai warisan budaya, dan belajar dari masa lalu untuk membangun masa depan yang lebih baik. (med)
Penulis : Abdul Hamid
Editor : Ali Akbar