Penulis : syalexa
Cerita berikut sepenuhnya sekedar fiktif karna yang Terjadi sebenarnya lebih nyata dari cerita ini
Pada 16 oktober 2023
Di minggu pagi saat berasku tak kunjung laku, bunyi kelakson yang melengking lengking, orang orang yang lalu lalang mengurus urasannya masing masing, tukang parkir yang selalu awas menjaga parkiran turut serta menyumbang kerut muram pasar anom, aku masih terdiam menunggu pembeli datang sembari memandangi seorang perempuan dengan alis tebal melengkung serupa celurit sedang megayun ngayunkan senjata pamungkas tukang daging namanya SYAGITA biasa dipanggil GITA, betapa lihainya perempuan itu mencabik cabik daging sapi, darah bercucur bersamaan dengan keringatnya, AHHH ingin sekali aku mengusap keringat yang bersarang di alis itu.
Setiap minggu pagi, kami sama sama membantu orang tua kami berjualan di pasar anom, kami harus siap menghadapi pembeli masing masing, saat aku istirahat makan siang sembari melaksanakan sholat dzuhur aku mencoba menghampiri dia wanita dengan alis tebal melengkung serupa celurit.
‘’ee kamu gak mau istirahat? ‘’ tanyaku
‘’ini mau istirahat makan,kamu gimna?’’ jawab GITA
‘’aku juga mau makan,gimana klo kita makan mie ayam?aku yang teraktir ‘’ kataku
‘’boleh’’ jawab GITA.
Akhirnya kami makan mie ayam langgananku di pasar ‘’WARUNG MIE AYAM PaK SAMSUL’’ porsinya banyak, juga murah, pak samsul juga orangya asik, tiap hari minggu jika tidak makan mie ayam pak samsul rasanya mingguku sia sia.
Hari hari terus merangkak di angka kalender, menuakan perkenalanku dengan GITA sang wanita dengan alis tebal melengkung serupa celurit, sejak saat itu terkadang kami makan di warung mie ayam pk samsul sampai sampai pk samsul jodoh jodohin kita, HAHA amin..
Hari selasa selepas aku pulang sekolah aku tidak sengaja bertemu gita di taman adipura.
‘’git,kamu ngapain? ‘’ tanyaku pelan
‘’lagi nuggu temen kamu sendiri ngapain?’’ jawab GITA.
‘’gada lagi males pulang aja’’ bisikku pelan
Pada saat itu aku ingin sekali mengajak nya untuk pergi bersamaku tapi aku belum cukup berani.
Malam nya aku memikirkan cara supaya bisa mengajak gita pergi jalan kebetulan besok hari rabu libur, karna sekolah sedang direnof jadi sementara sekolah di liburkan. “AHH sudahlah besok pokoknya harus jalan sama gita!” dadaku penuh gertakan.
Paginya aku pergi ke pasar membantu orang tuaku di pasar, begitu pula dengan gita, dia sudah sigap memegang senjata pamungkasnya, seperti biasa saat adzan dzuhur bergema di telinga, kami sudah berjalan menuju mie ayam pak samsul, saat kita sedang makan aku menggeramkan tanganku berusaha memberanikan diri mengajaknya pergi jalan.
‘’GIT besok kamu free gk?’’ tanyaku
‘’palingan Cuma bantu ibuk, kenapa emangnya’’ jawab GITA.
‘’ eee sorenya gimana klo kita jalan jalan?’’ tanyaku gemetar
‘’kemana?’’ jawab GITA
‘’kepantai gimana?’’ kataku
‘’ayok. tapi kamu yang minta izin ke ibuk ya..’’ jawab GITA menantang.
Betapa senangnya hatiku saat itu serasa akan ku traktir semua orang yang makan di warung mie ayam pak samsul saat itu.
Selepas makan aku bergegas mendatangi ibu gita yang biasa ku panggil MAK TOLI’AH, kami sudah sering bersaut sapa jadi untuk mendapat izin darinya mudah bagiku.
Siangnya aku mempersiapkan pakaian yang akan ku pakai, sweater abu dan celana hitam yang baru saja ku beli benar benar membuatku menggeliat ingin cepat cepat bertemu dengannya, 18 november 2023.
Sore hari aku jemput dia kerumahnya di manding tidak jauh dari rumahku sekitar 1 kilo, setelah sampai di sana ku ucap salam dengan rasa grogi yang memeluk lidah, kakeknya datang menghampiriku beliau bertanya.
‘’mau kemana cong?’’ ucap kakek
‘’mau ke pantai mbah’’ jawabku
GITA pun keluar dari kamarnya. menggunakan kemeja kotak-kotak dan celana hitam, aku yang memandanginya pun tak lagi sanggup mengatur debar dadaku.
Ahh meskipun berdandan seadanya GITA sanggup mencuri perhatianku.
Kamipun berangkat menyusuri jalanan manding menuju pantai selopeng sore itu
Aku hanya terdiam tak bisa membangun kata, menoleh kearahnya pun aku tak mampu, memalukan sekali rasanya untuk sekedar menatap matanya, di pertengahan jalan motorku rupanya kehausan (KEHABISAN BENSIN) kami pun mampir di toko pinggir jalan, GITA menatapku aku pun tersipu malu.
Sesampainya di pantai selopeng kami berjalan menuju toko klontong untuk membeli jajan, sesekali aku memegangi kepalanya untuk mengukur tinggi badan kita,saya baru menyadari GITA begitu mungil di hadapan saya, di toko dia bak anak kecil yang meminta jajan, dia minta di belikan yupi yang bentuknya kekanak kanakan, betapa lucunya tingkahnya, aku tersenyum begitu juga om” penjaga toko dia semringai melihat kami.
Kami duduk di pinggiran pantai sembari memandangi kuda kesana kemari memikul ibuk ibuk narsis yang sedang menikmati pantai, iri rasanya ingin sekali aku menaiki kuda itu.
Di pasir coklat ciri khas selopeng kita duduk berdampingan memakan jajan yang kami beli sembari memutar lagu ‘’PENJAGA HATI’’ mesra sekali rasanya, GITA merobohkan kepalanya ke pundakku, runtuh sudah hatiku di buatnya, aku mengusap kepalanya melunturkan rasa gemetar ku di pikiranku waktu itu.
“semoga kemesraan ini tak kunjung berlalu”
Setelah hari itu setiap kami memiliki waktu luang kami sering keluar jalan jalan mengitari kota Sumenep sekedar muter muter cari makan atau duduk di pinggir jalan lingkar tempat di mana aku mendapat ciuman sekaligus tamparan dari GITA,
Pada 5 oktober 2024.
Hari dimana aku berpacaran dengan GITA. Pada siang itu kita berdua pergi kepantai lombang paling timur di pulau madura, jaraknya sekitar 30 KM dari rumahku, kami berangkat jam 12.28 dari rumah GITA,
diperjalanan tiba-tiba langit mendung tak mendukung, hujan perlahan turun jatuh ke ubun ubun kamipun berteduh di tempat orang meminta amal di pinggir jalan, GITA tampak tak senang karna hujan, setelah berteduh agak lama hujan tak kunjung reda, akupun mengajak GITA untuk melanjutkan perjalanan meskipun hujan deras menabrak alis tebalnya, kami basah kuyup tapi kami tertawa riang, dingin pun dihangatkan oleh canda tawa sampai hujan reda.
Setelah sampai di pantai lombang disini ramai sekali, kami mencari tempat duduk sembari membeli minum. Kami pun duduk di pinggir pantai sembari berjemur mengeringkan baju kami yang basah.
“kepalaku pusing kayaknya masuk angin” ujarku kepada GITA, akupun menjatuhkan kepalaku ke pundak GITA, tak sadar akupun tertidur, setelah tersadar wajah gita sudah berada di atasku, ternyata aku berbaring di pangkuannya, “udah bangun?” ujar GITA, aku bangun dan kepalaku rasanya masih pusing, kita memutuskan untuk pulang karna kepalaku pusing mungkin aku demam, di parkiran “udah biar aku aja yang bawa motornya” ucap GITA, aku hanya mengangguk pelan, di perjalanan aku memeluknya,
“ngerepotin banget siiii, untung ada cewek baik nan cantik disini.. (bercanda)”. Ujar GITA
“hehe iya, apa kata orang ya malah si cowok yang bonceng ke ceweknya”. kataku
” emang aku cewek kamu?”. GITA bertanya
“ eh bukan sihhhh”. Ucapku pelan
”hmmm”. GITA mendengus
“emang mau?”. tanyaku
” apa?”. Tanya GITA
“jadi cewekku?”. Tanyaku pelan
”nanti aku jawab klo udah sampek rumah” Jawab GITA.
Kita pun sudah sampai di rumah GITA, aku langsung pamit ke ibunya izin untuk pulang karna kepalaku pusing tak tertahan, saat aku beranjak pergi GITA memanggilku “soal yang tadi aku mau” aku tersenyum lalu memeluknya.
Pada tanggal 5 oktober 2024 kita resmi berpacaran.
Pada 17 desember 2024
sore hari aku merayakan ulang tahun GITA di taman bunga sumenep, hari itu aku hanya mampu membelikannya kue sekaligus lampu tidur berbentuk hati, dia senang sekali terlihat dari matanya, senyumku tak tahan melihatnya. Setelah meniup lilin sudah saatnya aku menyuapi GITA dengan kue itu, ternyata aku lupa membawa sendok, GITA menyuruhku membeli jasuke supaya mendapat sendok dari sana, akupun mendapat sendok dan berhasil menyuapi GITA.
Malam sudah tiba sudah waktunya aku beranjak pulang, tak lupa aku menekan di antara kedua alisnya yang melengkung bak celurit menggunakan dua jariku, itulah caraku berpamitan dengannya.
Pada 1 juli 2024
tepatnya di hari ulang tahunku GITA memiliki kesibukan jadi kita merayakan di tanggal 3 juli 2024 di wisata sumber raja, dia memberikanku sweater yang sudah lama aku impi impikan sekaligus memberikanku scrapbook yang isinya kata kata manis darinya dan korek yang covernya terpampang wajah kita berdua, untuk kue ulang tahunku dia membelikan ku pancake 3 rasa, hari itu aku senang sekali untuk pertama kalinya ulang tahunku di rayakan, aku suka sekali mengusap kedua alisnya yang tebal sembari menyusun lego yang GITA bawa dari rumahnya yang tak mampu ia selesaikan sendiri.
Tak sangka sudah hampir 2 tahun kami berhubungan, aku mulai lalai terhadap aturan hubungan kita, aku mulai tertarik dengan wanita lain lalu diam diam melakukan perselingkuhan nyatanya GITA mengetahuinya, aku menyesal GITA memaafkanku sembari menyucurkan air mata kepercayaan, lagi dan lagi aku mengulangi kesalahan yang sama tetapi GITA tak pernah menutup pintu maafnya untukku, suatu hari dia berkata jika aku melakukan kesalahan yang sama lagi dia enggan untuk memaafkanku.
Pada Jumat 14 februari 2025
aku menemui GITA memberikannya bunga sekaligus coklat tanda perpisahan karna aku akan ikut bapak selama sebulan ke kota seribu masjit ( LOMBOK ) untuk menemui kerabat di sana, GITA menyukai bunga itu, bunga yang indah tapi tak mampu menyaingi senyuman GITA.
Tepat di hari kelulusannya saat aku tak lagi di sumenep entah apa yang ada di fikiranku, aku mengulangi kesalahan itu lagi, aku di beri tantangan oleh om ku namanya om yuda, jika berani mengajak kenalan sepupuku itu, dia akan membantu merayu bapakku untuk membelikanku motor yang selama ini ku idam idamkan. Agar suatu hari aku bisa membonceng GITA sembari memutari kota sumenep aku pun meng iyakan tantangannya.
Tak lama aku berhasil mengajaknya berkenalan namanya lia sepupu jauhku, ku akui dia cantik, orang tuaku suka padanya, sejak perkenalan itu aku dan lia cepat sekali akrab, dia mengajakku mendaki salah satu gunung yang ada di lombok, aku mau karna memang aku ingin sekali mendaki, tak sadar perkenalanku dengan lia melalaikanku kepada GITA, aku mulai mengacuhkan telfon darinya kita sudah jarang berkomunikasi dengan dalih kata sibuk dan lebih memilih bersama lia, dan yah tak lama aku di belikan motor yang aku idam idamkan berkat rayuan om yuda kebapakku, tetapi sayangnya GITA mengetahui kesalahanku, aku menyesal melakukannya GITA pun menyesal mempercayaiku, kenapa aku melakukan hal itu padanya padahal dari awal GITA tak pernah menipu, dia begitu mencintaiku mengapa aku memperlakukannya seperti itu, fikirku.
setelah itu GITA menghilang dari hadapanku semua sosial medianya tak kutemukan lagi, kabarnya dia pindah bersama keluarganya ke YOGYAKARTA.
Sudah 2 bulan sejak hubungan kita kalut aku tetap berusaha menghubunginya di nomornya yang nomorku saja di blokirnya, aku mengiriminya pesan setiap saat siapa tau suatu hari dia akan membalas pesanku, aku mendapat kabar dari temannya bahwa GITA masuk rumah sakit, aku khawatir bukan main aku tak tau harus bagaimana aku hanya bisa mengiriminya pesan di semua sosial medianya, dia benar-benar hilang.
Suatu hari aku dapat kabar kembali bahwa dia sudah memiliki pasangan baru, hatiku terpelintir oleh kabar itu, aku jatuh sakit tanpa dia tahu, 3 hari lamanya aku terbaring di tempat tidurku menangisi kelalaianku, aku masih tak percaya dia memiliki pasangan baru, aku tetap menghubunginya tanpa henti, hingga akhirnya dia membalas pesanku.
‘’apakah kau tak punya malu?aku tak lagi membutuhkanmu!’’ J awab GITA dengan kasar.
‘’injak harga diriku, ludahi diriku tapi tolong maafkan aku’’ kataku lirih.
‘’pergilah aku tak mau mengenalmu lagi bahkan kematianmu pun aku tak mau tau’’ J awab GITA dengan kasar.
Setelah itu dia benar benar sirna membawa pergi separuh jantungku menyisakan penyesalan yang kekal di pikiranku, membiarkanku mati di kubur penyesalan di taburi bunga bunga kenangan.
Gundahan GITA
‘’KAU ADA DI MANA-MANA NAMUN
AKU MEMILIH BUTA’’
Gundahan GITA 2
‘’AKU TIDAK TAHU CARA MENGATAKANNYA,
HANYA SAJA KETIKA MELIHATMU AKU MENYESAL MEMILIKI MATA’’
Pesan penulis : terima kasih.. terima kasih.. SYAGITA.
Penulis : syalexa
Editor : Ali Akbar









